Senin, 29 Desember 2008

arsip untuk'information Retrival'kategori

Arsip untuk 'Information Retrieval' Kategori


Model Vektor dan Clustering

Ditulis oleh putubuku di/pada April 3, 2008

Dalam teori pengindeksan dan information retrieval, dikenal adanya model klasik. Model ini menganggap bahwa setiap dokumen dapat digambarkan dengan, atau diwakili oleh, serangkaian katakunci yang disebut sebagai indeks (index). Kata atau istilah yang digunakan sebagai indeks (index terms) pada dasarnya adalah kata yang diambil dari dokumen, maupun yang ditentukan dari luar dokumen, yang secara semantik dapat membantu manusia mengetahui tema utama sebuah dokumen. Pada umumnya indeks adalah kata-benda, sebab kata-benda memiliki arti pada dirinya sendiri, sehingga secara semantik lebih mudah dikenali dan diartikan.

Indeks merupakan hal terpenting dalam information retrieval, tetapi tidak semua kata indeks memiliki nilai penting yang sama sebagai wakil dokumen. Jika sebuah penyimpanan memiliki 1000 dokumen, dan jika sebuah kata indeks (misalnya kata ‘informasi’) muncul di setiap dokumen tersebut, maka kata itu tidak ada gunanya sebab dia tidak dapat membedakan antara dokumen nomor 1 sampai nomor 1000, semuanya tentang informasi. Sebaliknya, kalau ada istilah yang muncul hanya di lima dokumen (misalnya frasa ‘pengetahuan eksplisit’), maka frasa tersebut sangat penting sebab menjadi ciri unik untuk lima dokumen yang dapat dipilih oleh pengguna sesuai keperluannya.

Maka pemberian nilai terhadap sebuah istilah indeks menjadi pokok persoalan bagi semua sistem information retrieval. Salah satu cara untuk mengenakan nilai yang berbeda-beda kepada sebuah istilah yang digunakan sebagai indeks adalah adalah dengan mendaftar semua istilah yang ada dalam indeks, lalu memberikan kemungkinan nilai sama dengan atau lebih besar dari nol, untuk satu per satu istilah itu.

Dalam sistem information retrieval yang menggunakan Boolean maka variabel nilai bobot istilah indeks selalu bersifat biner (dua pilihan), yaitu nol atau satu. Jika nilainya satu maka model Boolean menyimpulkan bahwa dokumen relevan terhadap sebuah permintaan (query). Selebihnya, kalau bernilai nol maka dokumen dianggap tidak relevan. Karena hanya dua pilihan (alias biner), maka tidak ada kemungkinan ‘agak relevan’ alias partial match. Keuntungan model Boolean tentunya adalah kesederhanaannya. Kerugian terbesarnya adalah pada kemungkinan penemuan dokumen yang terlalu banyak atau terlalu sedikit.

Pengenaan bobot (weighs) pada istilah indeks merupakan salah satu cara mengatasi kerugian model Boolean sederhana tersebut. Misalnya dengan menggunakan model Vektor. Model ini menganggap bahwa pembobotan biner terlalu terbatas kegunaannya, dan mengusulkan penggunaan konsep partial matching. Konsep ini dicapai dengan mengenakan bobot non-biner terhadap istilah indeks di dalam query dan di dalam dokumen. Masing-masing bobot ini kemudian digunakan untuk menghitung derajat kesamaan (degree of similarity) antara setiap dokumen di dalam sistem dan query yang diajukan pengguna. Sistem kemudian dapat mengurutkan dokumen menurut derajat kesamaan, dari yang paling tinggi ke yang paling rendah. Dengan kata lain, sistem menawarkan juga dokumen yang tidak sepenuhnya memenuhi query (atau ‘agak relevan’ alias partial match). Penjajaran dokumen secara berurutan ini diharapkan menghasilkan ketepatan (presisi) dibandingkan model Boolean klasik.

Perhatikanlah bahwa untuk model Vektor, bobot selalu dikaitkan dengan pasangan indeks dan query. Bobot ini selalu bernilai positif dan non-biner. Istilah yang digunakan di dalam query selalu diberi bobot. Lalu, dilakukan penghitungan vektor query dan vektor dokumen, sehingga yang muncul adalah variasi nilai mulai dari nol sampai satu. Dalam model Vektor, maka derajat kesamaan indeks dokumen dan istilah dalam query, dihitung sebagai sebuah korelasi antara dua vektor tersebut. Korelasi ini kemudian dapat dikuantiikasi, salah satunya dengan menghitung kosinus sudut antara kedua vektor.

Dengan kata lain, alih-alih memutuskan apakah sebuah dokumen relevan atau tidak, model Vektor membuat urut-urutan dokumen menurut derajat kesamaan (degree of similarity) terhadap query. Sebuah dokumen dapat dipilih walaupun hanya cocok dengan query secara sebagian (partial match).

Tetapi, bagaimana mendapatkan dan menghitung bobot untuk istilah indeks? Karya Salton dan McGill (1983) mengulas berbagai cara menghitung bobot itu. Cara yang mereka anggap paling efektif adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip clustering alias pengelompokan. Jika ada sekumpulan koleksi objek, C, dan sebuah set A, maka algoritme clustering pada dasarnya hanya bermaksud memisahkan C menjadi dua kelompok: Pertama, kelompok yang berisi objek yang dapat dikaitkan dengan set A. Kedua, kelompok yang berisi objek yang tidak dapat dikaitkan dengan set A. Kondisi set A yang samar-samar menyebabkan kita tidak punya informasi yang lengkap untuk memutuskan secara tepat objek mana yang sungguh-sungguh cocok untuk set A dan objek mana yang sungguh-sungguh tidak cocok. Misalnya, seseorang mencari set A dari mobil-mobil yang harganya setara dengan Lexus 400. Jika kita tidak bisa secara persis dan tunggal, apa yang dimaksud dengan “setara”, maka kita tidak dapat dengan persis mendeskripsikan set A itu.

Untuk melihat persoalan information retrieval sebagai persoalan clustering, kita menganggap kumpulan dokumen sebagai koleksi C dan menganggap query pengguna sebagai set A yang samar-samar (vague). Dengan skenario ini, maka persoalan information retrieval dapat dipersempit menjadi persoalan tentang bagaimana menentukan dokumen yang dapat dimasukkan sebagai set A, dan dokumen yang tidak dapat dimasukkan ke set A.

Ada dua isyu yang harus diatasi. Pertama, harus ada cara untuk menentukan fitur yang paling tepat dapat menggambarkan objek-objek di set A. Kedua, harus ada cara untuk menentukan fitur yang paling tepat dapat memisahkan objek di set A dari objek-objek lain di C. Fitur yang pertama akan menjadi cara mengkuantifikasi kesamaan intra-cluster. Fitur kedua akan menjadi cara mengkuantifikasi perbedaan inter-cluster. Kalau sebuah sistem dapat menyeimbangkan keduanya, maka sistem itu bekerja dengan baik.

Bacaan:

Salton, G. dan M.J. McGill (1983), Introduction to Modern Information Retrival, Ne York : McGraw-Hill.

Ditulis dalam Information Retrieval | yang berkaitan: , , , | Tidak ada komentar »

Periodisasi Information Retrieval

Ditulis oleh putubuku di/pada Maret 29, 2008

Ketika para pengelola perpustakaan baru mulai menggunakan komputer, salah satu hal mendasar dan terpenting yang pertama mereka lakukan adalah menciptakan katalog berbantuan komputer. Ini kemudian dikenal sebagai “online public access catalogue” alias OPAC. Pada awalnya, penerapan ini betul-betul hanya memindahkan katalog kartu ke dalam bentuk elektronik atau digital. Namun lama kelamaan, berbagai perkembangan teknologi memungkinkan sistem simpan dan temu kembali menjadi lebih rumit, lebih beragam, dan lebih luas.

Sementara itu, teknologi komputer sendiri sebenarnya juga berkembang secara spesifik ke arah penyimpanan dan penemuan kembali informasi. Sejak awal, teknologi ini di arahkan ke persoalan dasar “simpan dan temukan lagi” itu. Chu (2003) membagi seluruh perkembangan prinsip dan teknik menyimpan informasi berbantuan komputer ini dalam 4 periode, seperti ini:

  1. Periode Peningkatan Kebutuhan (Increased demand) 1940s – sampai awal 1950an, yaitu periode ketika Perang Dunia II sedang menuju penyelesaian, dan negara-negara sekutu (terutama Amerika Serikat) bekerja keras menghajar Jerman dan Jepang. Pada saat itu muncul keperluan besar untuk laporan dan dokumen teknis dari penelitian yang menyangkut persenjataan. Dari kebutuhan yang meningkat pada masa perang inilah lahir salah satu prinsip yang kemudian diterapkan dalam bidang komputer, yaitu coordinated indexes yang pertama kali disebut-sebut secara resmi pada tahun 1951.
  2. Periode Pertumbuhan Pesat (Rapid Growth) antara 1950an – 1980an, yaitu masa keemasan temu-kembali berbantuan komputer, saat teknologi ini diperkenalkan antara 1957 sampai 1959 oleh Hans Peter Luhn dalam bentuk mesin yang tidak hanya dapat melakukan penemuan informasi berdasarkan kecocokan kata kunci (keyword matching) saja, melainkan juga mengurutkan informasi secara sistematis (sorting), dan bahkan bisa melakukan analisis isi (content analysis) secara sederhana. Tahun 60an muncul DIALOG salah satu pionir dalam penyediaan informasi melalui jaringan terpasang (online database).
  3. Periode Penghapusan Mitos (Demystified Phase) antara 1980an – 1990an yaitu saat komputer pribadi (PC) dan keping penyimpan data (CDROM) semakin lama semakin besar daya tampungnya. Ketika online system sudah semakin berkembang, para pengguna sebenarnya tidak bisa memakai langsung. Jadi, harus ada para perantara (intermediaries) yang menggunakannya, antara lain karena sistem itu mahal dan sulit digunakan oleh orang awam. Maka lalu ada istilah end-users (orang yang tidak melakukan pencarian, tetapi minta bantuan pustakawan untuk melakukan pencarian). Keadaan baru berubah setelah PC dan CDROM ditemukan. Berbagai sistem informasi dibuat menjadi semakin mudah digunakan (user friendly), sehingga mitos tentang betapa sulitnya melakukan pencarian secara terpasang (online search) pun perlahan sirna. Setiap orang lalu dapat melakukan pencarian tanpa harus meminta bantuan kepada pustakawan.
  4. Periode Jaringan (The Networked Era) tahun 1990an – sekarang, yaitu ketika teknologi telematika memungkinkan para pencari informasi ‘mengunjungi’ berbagai pusat penyimpanan data dan informasi yang berbeda-beda untuk melakukan pencarian secara bersamaan, atau dikenal juga dengan istilah pencarian berpencar (distributed searching). Perkembangan Internet pun akhirnya melahirkan fenomena pencarian tanpa bantuan siapa pun terhadap berbagai sumber informasi digital yang nyaris tak terhingga jumlahnya.

Pada saat komputer mulai digunakan dalam kegiatan menyimpan dan menemukan kembali informasi, diperkenalkanlah istilah information retrieval sebagai nama untuk bidang khusus yang memperhatikan persoalan penyimpanan dan penemuan kembali informasi elektronik atau digital. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah ini dibedakan dari data retrieval. Baeza-Yates dan Riberio-Neto (1999) merumuskan perbedaan antara keduanya sebagai berikut:

Information Retrieval (IR) deals with the representation, storage, organization of, and access to information items. The representation and organization of the information items should provide the user with easy access to information in which he is interested … Data retrieval, in the context of an IR system, consist mainly of determining which documents of a collection contain the keyword in the user query which, most frequently, is not enough to satisfy the user information need.

Jadi, information retrieval merujuk ke keseluruhan kegiatan yang meliputi pembuatan wakil informasi (representation), penyimpanan (storage), pengaturan (organization) sampai ke pengambilan (access). Semua ini harus memudahkan pemakai sistem informasi untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Sementara itu, data retrieval memiliki lingkup yang lebih sempit, yaitu bagaimana mencocokkan antara kata-kata yang terkandung di sebuah dokumen dengan kata-kata yang digunakan seseorang dalam mencari informasi (dengan asumsi bahwa yang dicari adalah kata-kata dan dokumennya berisi kata-kata).

Seringkali ada kesalahpahaman tentang katalogisasi-klasifikasi dan information retrieval. Ada yang mengganggap bahwa keduanya adalah hal serupa, ada yang menganggap keduanya tidak serupa sama sekali, ada yang menganggap information retrieval menggantikan katalogisasi-klasifikasi. Padahal keduanya adalah hal yang berkesinambungan, tidak saling menggantikan, memiliki perbedaan yang mendasar, tetapi dibangun oleh prinsip dasar yang sama tentang penyimpanan dan penemuan kembali pengetahuan.

Rujukan:

Chu, Heting (2003), Information Representation and Retrival in the Digital Age, Medford NJ : Information Today

Baeza-Yates, Ricardo dan Berthier Riberio-Neto (1999), Modern Information Retrieval, New York : ACM Press.

Ditulis dalam Information Retrieval | yang berkaitan: , ,

sejarah perkembangan tekhnologi informasi dan komunikasi

Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasih

1. masa Perasejarah

a. Masa (….s/d 3000 SM)

Pada awalnya teknologi informasi yang dikembangkan manusia pada masa ini berfungsi sebagai sistem untuk pengenalan bentuk-bentuk yang meraka kenal. Mereka menggambarkan informasi yang mereka dapatkan pada dinding-dinding gua, tentang berburu dan binatang buruannya. Pada masa ini mereka mulai melakukan pengidentifikasian benda-benda yang ada dilingkungan mereka tinggal dan mewakilinya dengan bentuk-bentuk yang kemudian mereka lukis pada dinding gua tempa.t mereka tinggal, karena kemampuan mereka dalam berbahasa hanya berkisar pada bentuk suara dengusan dan isyarat tangan sebagai bentuk awal komunikasi mereka pada masa ini.

Perkembangan selanjutnya adalah diciptakan dan digunakannya alat-alat yang menghasilkan bunyi dan isyarat, seperti kendang ,terompet yang terbuat dari tanduk binatang, atau isyarat asap sebagai alat pemberi peringatan terhadap bahaya.

b. Masa Sejarah(3000 SM s/d 1400 –an M)

Pada masa tersebut teknologi informasi belum menjadi teknologi masal seperti yang kalian kenal sekarang ini, teknologi informasi masih digunakan oleh kalangan terbatas saja, digunakan pada saat-saat khusus dan biaya yang dikeluarkan banyak.

c. Masa 3000 SM

Untuk pertama kali tulisan digunakan oleh bangsa Sumeria dengan symbol-simbol yang dibentuk dari pictograf sebagai huruf.

Simbol atau huruf-huruf ini juga mempunyai bentuk bunyi yang berbeda (penyebutan), sehingga mampu menjadi kata , kalimat dan bahasa.

d. Masa Sejarah (3000 SM s/d 1400-an M)

1) 2900 SM

Pengunaan huruf hierogliph pada bangsa Mesir kuno. Hierogliph merupakan bahasa symbol dimana setiap ungkapan diwakili oleh symbol yang berbeda.Ketika digabungkan menjadi satu akan mempunyai cara pengucapan dan arti yang berbeda. Bentuk tulisan dan bahasa heirogliph ini lebih maju dibandingkan dengan tulisan bangsa Sumeria.

2) 500 SM

Serat papyrus digunakan sebagai kertas. Kertas terbuat dari serat pohon papyrus yang tumbuh disekitar Sungai Nil ini menjadi media menulis atau media informasi yang lebih kuat dan fleksibel dibandingkan dengan lempengan tanah liat yang sebelumnya digunakan sebagai menia informasi.

3) 105 M

Bangsa Cina menemukan kertas.Kertas yang ditemukan oleh bangsa Cina pada masa ini adalah kertas yang kalian kenal sekarang. Kertas ini dibuat dari serat bambu yang dihaluskan, disaring,dicuci, kemudian diratakan dan di keringkan. Penemuan ini juga memungkinkan sistem pencetakan yang dilakukan dengan menggunakan blok kayu yang ditoreh dan dilumuri oleh tinta atau yang kalian kenal sekarang dengan sistem cap.

2. Masa Modern (1400-an M s/d sekarang)

  1. Tahun 1455

Mesin cetak yang menggunakan plat huruf terbuat dari besi yang dapat diganti-ganti dalam bingkai yang terbuat dari kayu dikembangkan untuk yang pertama kalinya oleh Johann Guntenberg

  1. Tahun 1830

Augusta Lady Byron menulis program komputer yang pertama di dunia bekerja sama dengan Charles Babbage menggunakan mesin Analytical-nya. Alat tersebut didesain mampu memasukkan data, mengola data, dan menghasilkan bentuk keluaran dalam sebuah kartu. Mesin ini dikenal sebagai bentuk komputer digital yang pertama walaupun cara kerjanya lebih bersifat mekanis daripada bersifat digital, 94 tahun sebelum komputer digital pertama ENIAC 1 dibentuk .

  1. Tahun 1837

Samuel Morse mengembangkan telegraf dan bahasa kode Morse bersama Sir Wiliam Cook dan Sir Charles Wheatstone yang dikirim secara elektronik antara dua tempat yang berjauhan melalui kabel yang menghubungkan kedua tempat tersebut. Pengiriman dan penerimaan informasi ini mampu dikirim dan diterima pada saat yang hampir bersamaan waktunya penemuan ini memungkinkan informasi dapat diterima dan digunakan secara luas oleh masyarakat tanpa dirintangi oleh jarak dan waktu.

  1. Tahun 1861

Gambar bergerak yang diproyeksikan ke dalam sebuah layar pertama kali digunakan sebagai cikal bakal film sekarang pada zaman dulu proyektor ini berkembang dengan sebutan layar tancap.

  1. Tahun 1876

Pada masa ini ditandai dengan tokoh Melvyl Dewey yang mengembangkan sistem penulisan desimal.

  1. Tahun 1877

1) Alexander Graham Bell menciptakan dan mengembangkan telepon yang digunakan pertama kali secara umum.

2) Fotografi dengan kecepatan tinggi ditemukan oleh Edward Maybridge.

  1. Tahun 1899

Dipergunakan system penyimpanan dalam tape (pita) magnetis yang pertama tetapi pada masa ini penyimpanan masih bersifat analog belum digital seperti masa sekarang.

  1. Tahun 1923

Pada masa ini ditandai dengan Zvorkyn menciptakan tabung TV yang pertama.

  1. Tahun 1940

Dimulainya pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang informasi pada masa Perang Dunia 2 yang digunakan untuk kepentingan pengiriman dan penerimaan dokumen-dokumen militer yang disimpan dalam bentuk magnetic tape.

  1. Tahun 1945

Vannevar Bush mengembangkan sistem pengkodean menggunakan hypertext.Pada masa ini penggunaan hypertext sudah berkembang seiring dengan perkembangan desain web site yang saat ini berkembang.

  1. Tahun 1946

Pada masa kurun waktu ini teknologi komputer digital pertama di dunia ENIAC I dikembangkan walaupun belum begitu banyak pemakai tetapi teknologi computer sudah digunakan instansi-instansi tertentu.

  1. Tahun 1948

Para peneliti di Bell Telephone mengembangkan transistor.

  1. Tahun 1957

1) Jean Hoerni mengembangkan transistor planar.Teknologi ini memungkinkan Pengembangan jutaan bahkan milyaran transistor dimasukan kedalam sebuah keping kecil kristal silicon.

2) USSR (Rusia pada saat itu) meluncurkan Sputnik sebagai satelit bumi buatan pertama yang bertugas sebagai mata-mata.Sebagai balasannya Amerika membentuk Advance Research Projects Agency (ARPA) di bawah kewenangan Departemen Pertahanan Amerika untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dalam bidang militer.

  1. Tahun 1972

Pada masa ini Ray Tomlinson menciptakan program E-mail pertama yang digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh menggunakan teks.E-mail dapat dikatakan sebagai surat elektronik.

  1. Tahun 1973-1990

Istilah internet diperkenalkan dalam sebuah paper mengenai TCP/IP kemudian dilakukan pengembangan sebuah protokol jaringan yang kemudian dikenal dengan nama TCP/IP yang dikembangkan oleh grup dari DARPA.Pada tahun 1981 National Science Fondation mengembangkan Backbone yang disebut CSNET dengan kapasitas 56 Kbps untuk setiap institusi dalam pemerintahan.Kemudian pada tahun 1986 IETF mengembangkan sebuah server yang berfungsi sebagai alat koordinasi diantaranya:DARPA, ARPANET, DDN, dan Internet Gateway.

  1. Tahun 1991-Sekarang

Sistem bisnis dalam bidang IT pertama kali terjadi ketika CERN dalam menanggulangi biaya operasionalnya memungut bayaran dari para anggotanya.Pada tahun 1992 pembentukan komunitas internet, kemudian diperkenalkan istilah World Wide Web (WWW) oleh CERN.Pada tahun 1993, NSF membentuk interNIC untuk menyediakan jasa pelayanan internet menyangkut direktori dan penyimpanan data serta database (oleh AT&T), jasa registrasi (oleh Network Solution Inc),dan jasa informasi (oleh General Atomics/CERFnet).Pada tahun 1994 pertumbuhan internet melaju dengan sangat cepat dan mulai merambah ke dalam segala segi kehidupan manusia dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari manusia.Tahun 1995, perusahaan umum mulai diperkenankan menjadi provider dengan membeli jaringan di Backbone.Langkah ini memulai pengembangan teknologi informasi khususnya internet dan penelitian-penelitian untuk mengembangkan sistem dan alat yang lebih canggih.